Adakah Dampak Pandemi terhadap Kesehatan Mental?
Penulis: Haifa Bilqis
Seluruh dunia masih berperang melawan covid-19 dan membiasakan kebiasaan baru di tengah pandemi, sebut saja seperti pembatasan sosial yang melarang kita berhubungan sosial secara langsung, isolasi dari lingkungan sekitar, kegiatan yang dilakukan dari rumah seperti sekolah dan bekerja, dan lain sebagainya. Tanpa kita sadari kebiasaan baru yang serba mendadak ini ikut mempengaruhi kesehatan mental kita. Kesehatan mental merupakan kondisi ketika batin dan watak manusia dalam keadaan normal, tenteram, dan tenang. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan bahwa kesehatan mental mencakup kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial manusia. Lalu, bagaimanakah keadaan mental seseorang di tengah pandemi yang masih berlangsung ini?
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) melakukan survey tentang kesehatan mental. Hal itu kemudian dikaitkan dengan kondisi dunia yang saat ini tengah mengalami pandemi covid-19. Dari survey tersebut, diketahui bahwa banyak negara yang melaporkan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan mental. Survey ini membuktikan bahwa pandemi berdampak pada kondisi kesehatan mental seseorang. Penyebab perubahan kondisi mental seseorang dikaitkan dengan stres yang dirasakan akibat isolasi sosial atau physical distancing. Kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat terpenuhi karena adanya pembatasan sosial yang memaksa manusia tidak bisa bertemu dengan orang lain secara langsung, hal ini memicu perasaan cemas dan gelisah yang berkelanjutan
Perasaan takut terkena virus covid-19 juga menjadi pemicu penurunan kondisi mental seseorang. Beberapa orang mengalami ketakutan yang luar biasa bahkan hanya untuk keluar rumah ataupun bertemu dengan orang lain bahkan ketika mereka telah menerapkan protokol kesehatan yang cukup ketat. Studi menunjukkan, seseorang yang telah menerapkan protokol kesehatan namun masih terinfeksi covid-19 mengalami kekecewaan dan kecemasan yang berlebihan. Kecemasan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko ansietas, depresi, hingga gejala stres pascatrauma.
Maraknya pemberitaan buruk tentang pandemi covid-19 juga mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Pemberitaan buruk ini akan membuat seseorang cemas terhadap kondisi hidupnya sendiri, keluarga, teman, atau orang lain di sekitarnya. Pandemi ini menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan dan pendapatannya, hal ini memicu penurunan kondisi mental seseorang akibat khawatir tentang bagaimana kehidupannya kedepan. Hal ini menyebabkan tidak sedikit orang mengalami gangguan kecemasan, insomnia, dan melarikan diri dari kenyataan dengan mengonsumsi alkohol atau obat-obatan terlarang.
Penurunan kesehatan mental pada saat pandemi juga memicu gangguan kesehatan lain. Stres yang dialami oleh beberapa orang menyebabkan sistem imun seseorang menurun dan menjadi rentan untuk terinfeksi covid-19. Insomnia yang kerap kali dirasakan akan memicu penyakit lain seperti melemahnya sistem kekebalan tubuh, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung. Kita tidak hanya menghadapi covid-19 di tengah pandemi ini, tapi juga menghadapi isu penurunan kesehatan mental. Sayangnya, pemerintah Indonesia belum memasukkan isu penting ini dalam agenda menghadapi pandemi.
Adakah cara untuk menjaga kesehatan mental di tengah pandemi ini? Tentu saja ada. Cara pertama adalah tetap beraktivitas seperti berolahraga di rumah, berolahraga dapat meningkatkan hormon kebahagiaan. Cara kedua adalah dengan memakan makanan sehat. Cara ketiga adalah mengubah gaya hidup, kebiasaan buruk seperti meroko atau begadang dapat kita ubah dengan kebiasaan baru seperti membaca buku, merawat tanaman, berolahraga, atau sekedar mengembangkan hobi baru. Cara yang keempat adalah bijak memilih informasi yang masuk, informasi yang buruk dapat meningkatkan kecemasan kita, bijak dalam memilih infomasi dapat menjaga kesehatan mental kita agar tetap stabil. Cara terakhir adalah dengan tetap berhubungan dengan orang lain, meski tidak memungkinkan berhubungan langsung dnegan mereka kita bisa memanfaatkan kemajuan teknologi seperti bertukar pesan, melakukan panggilan video, dan lain sebagainya. Cara tersebut diharapkan dapat menjaga kesehatan mental seseroang agar tetap stabil dan mengindari penurunan kondisi mental seseorang.
Isu kesehatan mental haruslah menjadi pekerjaan rumah untuk pemerintah. Pandemi ini telah merubah dan memengaruhi banyak hal termasuk kesehatan mental. Kebiasaan baru mengakibatkan kondisi mental menurun dan berakibat pada banyak hal termasuk kesehatan fisik. Sayangnya, banyak orang belum mengetahui bahwa kondisi kesehatan mental seseorang dalam pandemi tidak kalah penting dengan kondisi tubuhnya. Daripada berlarut dalam kesedihan dan kecemasan di tengah pandemi yang belum berakhir hingga akhirnya berakibat pada penurunan kesehatan mental kita, masih banyak hal lain yang dapat kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental kita agar tetap stabil.
Komentar
Posting Komentar